Cari Blog Ini

Jumat, 14 Januari 2011

GAUNG KEMUDAHAN

Suatu ketika, Rasulullah saw kedatangan seorang tamu ibnu sabil yang kehabisan bekal. Karena di rumahnya tidak ada sesuatu yang layak untuk diberikan, maka nabi meminta tolong sahabat Bilal agar mengantar tamu itu ke rumah Fatimah.

Di rumah putri kesayangan nabi itu, rupanya juga tidak ada sesuatu yang layak
dimakan. Maka dengan hati tulus dan ikhlas, Fatimah memberinya kalung hadiah
pernikahannya dengan Ali. “Ambillah kalung ini dan juallah! Mudah-mudahan harganya cukup memenuhi keperluanmu!” kata Fatimah.

“Berapa hendak kamu jual kalung itu?” tanya Ammar bin Yasir.

“Aku akan menjualnya dengan tukaran roti dan daging sekadar untuk mengenyangkan perutku, sebuah baju penutup tubuhku, dan uang satu dinar untuk menemui istriku,” kata si tamu.

Ammar berkata, “Baiklah, aku membeli kalung itu dengan harga 20 dinar, ditambah 200 dirham, ditambah sebuah baju, serta seekor unta agar kamu dapat menemui istrimu.”

Setelah itu Ammar berkata kepada budaknya, Asham. “Wahai Asham, pergilah sekarang menghadap Rasulullah. Katakan bahwa aku menghadiahkan kalung ini dan juga kamu kepadanya. Jadi, mulai hari ini kamu bukan budakku lagi, tetapi budak Rasulullah.”

Ternyata Rasulullah pun berbuat sebagaimana Ammar. Ia menghadiahkan kalung itu dan juga Asham kepada Fatimah.

Fatimah sangat bahagia menerima hadiah dari ayahandanya, sekalipun dia tahu bahwa kalung ini semula memang miliknya. Dia sadar, ternyata kebaikannya yang hanya sekadar memberi kalung mendapat balasan berlebih dari Allah swt, yaitu dengan ditambah seorang budak.

Lalu Fatimah berkata kepada Asham, “Wahai Asham, kamu sekarang bebas dari perbudakan dan menjadi manusia merdeka, aku melakukan semua ini karena Allah swt semata.”

“Mengapa kamu tertawa seperti itu,” tanya Fatimah yang merasa heran melihat Asham tertawa terbahak-bahak.

“Aku tertawa karena kagum dan takjub akan berkah kalung yang beriwayat ini. Ia telah mengenyangkan orang yang lapar. Ia telah menutup tubuh orang yang telanjang. Ia telah memenuhi hajat seorang yang fakir dan akhirnya ia telah membebaskan seorang budak,” jawab Asham.

Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang ingin doanya dikabulkan dan kesusahannya dihilangkan, maka bantulah orang yang sedang kesulitan.” (HR Ibnu Abi ad-Dunya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar